Kamis, 19 April 2012

Anak Anjing

Saya sangat terberkati dengan sebuah kisah nyata setelah saya membacanya di www.pondokrenungancom. Saya akan menceritakannya kembali untuk anda. Silahkan membaca dan Tuhan Yesus Memberkati. Amin.


Anak Anjing

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menaik bagi anak-anak kecil, "Dijual Anak Anjing".
Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya "Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu menjawab, "Harganya berkisar antara 30 - 50 Dollar."
Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya.

Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang. Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu.
Tanyanya, "Kenapa dengan anak anjing itu?" Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.
Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing yang cacat itu." Pemilik toko itu menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu."
Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu."
Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya."

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya."

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, "Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau."

(Editor-270801)

Pojok Renungan Editor: Bahkan mereka yang cacat pun mempunyai nilai yang sama dengan mereka yang normal.

Kisah nyata Lo - Si Petani Sederhana

Pada waktu saya membaca kesaksian di www.sabda.org/misi/kesaksian.php. saya terberkati dengan sebuah kisah nyata. Saat ini saya akan menceritakan kembali kisah tersebut. Saya harap kisah ini memberkati anda semuanya. Tuhan Yesus Memberkati, Amin.


                                                       LO - SI PETANI SEDERHANA
 
"Berdirilah dengan tangan terentang, berputarlah secara perlahan membentuk sebuah lingkaran dan berdoalah untuk setiap hal yang kamu lihat melalui jari-jarimu."
Itulah kebiasaan yang dilakukan oleh Lo setiap sore ketika ia sedang berdiri di atas sebuah bendungan air di sekitar ladang padinya. Dengan cangkul di atas salah satu punggungnya, ia merentangkan salah satu lengannya, membuka jari-jarinya dan perlahan-lahan memutar tubuhnya ke semua penjuru.
Lo adalah seorang petani yang sederhana dan setengah buta huruf. Dia mungkin dilihat sedikit aneh oleh tetangga-tetangganya, berdiri di atas sebuah bendungan air, tanpa alas kaki, mengenakan baju dan celana panjang kotor yang digulung sampai setinggi lutut. Tetangga- tetangganya mengira dia sedang melakukan sejenis latihan tenaga dalam sampai sekelompok anak kecil merangkak mendekatinya dan mereka ternyata mendengar dia berdoa. Dia berdoa untuk setiap hal yang dilihat melalui jari-jari tangannya yang terbuka.
Ketika dia melihat ladang-ladang tetangganya, dia berdoa, "Tuhan, berkatilah tetangga-tetangga saya dan berikan kepada mereka hasil panen yang berlimpah." Ketika dia melihat kerbau temannya, dia berdoa, "Tuhan, tolong pelihara kerbau ini agar tetap sehat dan kuat karena dia sangat penting bagi teman saya." Ketika dari kejauhan, dia melihat asap yang naik dari sebuah tempat penambangan batu, dia berdoa, "Tuhan, lindungilah orang-orang yang bekerja dengan banyak dinamit di tempat penambangan batu tersebut. Biarlah setiap batu yang berasal dari tanah yang Kau ciptakan menjadi bagian dari sebuah rumah." Dia berputar lebih lanjut dan melihat jendela-jendela yang pecah di pabrik kaca: "Tuhan, lindungilah para wanita yang bekerja di pabrik tersebut dan biarlah mereka mengalami penyertaan-Mu selama bekerja." Dia berdoa untuk setiap hal yang dia bisa lihat. Penghuni rumah, pemilik ladang, seekor binatang, pohon-pohon atau bendungan- bendungan. Dia berdoa supaya mereka bisa berkembang dan tetap terpelihara.
Lo adalah satu-satunya orang Kristen di daerah tersebut dan tetangga- tetangganya menganggap doanya itu sesuatu yang aneh. Mereka mengetahui kalau dia itu tidak terlalu pandai, sehingga mereka menyangka Lo setengah gila. Pada usia 51 tahun, Lo meninggal tanpa kehadiran seorang keluarga pun, karena serangan jantung. Sejak kematian Lo, satu persatu kecelakaan dan malapetaka mulai terjadi di daerah itu: empat orang terbunuh akibat terjadinya ledakan di tempat penambangan batu, seorang wanita muda kehilangan sebuah lengannya pada sebuah kecelakaan di pabrik gelas, ada kerbau mengamuk sampai menghancurkan saluran irigrasi yang penting. Akhirnya, para penduduk desa berkumpul dan berkata, "Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini karena Lo sudah tidak ada lagi untuk mendoakan kita. Seperti yang kita ketahui dari anak-anak kita, tidak ada seorangpun terluka dan panen berlimpah ketika Lo mendoakan kita." Mereka berembuk sampai larut malam dan memutuskan untuk mencari tahu kepada Allah yang mana Lo berdoa dan mereka merasa menyesal karena tidak terlalu tertarik kepada kepercayaan Lo ketika dia masih hidup.
Dalam rangka mencari jawaban tersebut, mereka menyalakan hio (sejenis dupa) di sebuah altar di desa mereka. Anehnya, patung pahlawan perang yang ada di atas altar selalu terjatuh setiap malam dengan muka terpuruk di lumpur. Akhirnya mereka mendapatkan sebuah ide: "Dewa selalu jatuh pada arah yang sama." Jatuhnya selalu menunjukkan ke arah bekas rumah Lo. Lalu mereka pergi ke rumah tersebut, yang sekarang ditinggali oleh sebuah keluarga, dan mulailah mereka mencari tahu. Setelah beberapa waktu, seseorang berteriak, "Saya telah menemukan sesuatu!" dan dia menarik sebuah buku kecil dari celah di bawah atap. Mereka membawa buku tersebut ke hadapan patung dewa mereka dan menyalakan lebih banyak hio lagi dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada hari itu, seorang penginjil muda tiba di daerah itu dan mulai menginjili di ladang-ladang: "Saudaraku, ijinkan saya untuk menceritakan tentang Yesus Kristus."
Tetapi, sebelum penginjil muda itu berkata lebih lanjut, sekelompok orang menangkapnya dan mengikat tangan dan kakinya dan berteriak kepadanya, "Apa yang kamu kerjakan? Hendak mengajarkan penyembahan yang lain?" Ketika sedang menyeretnya melewati altar, mereka mendengar suara yang keras dan sebuah teriakan. Mereka melepaskan penginjil tersebut dan berlari ke altar di mana mereka menemukan patung pemujaan mereka terjatuh lagi dan kali ini menimpa kaki seorang wanita muda. Ketika mereka sedang berusaha membebaskan wanita tersebut, penginjil muda tadi bergerak mendekat. Dia mengenali buku Lo yang diletakkan di altar, lalu mengangkatnya dan bertanya, "Ini adalah Alkitab. Di manakah kalian menemukannya?" Penduduk desa memandangnya dan bertanya apakah dia mengetahui tentang buku tersebut. "Tentu saja, ini adalah buku tentang Yesus Kristus, Allah yang terhebat, yang menjawab setiap doa, tidak seperti allah-allah lainnya."
Itu adalah kata-kata yang sudah lama ingin didengar oleh para penduduk desa. "Buku ini milik seorang petani di desa ini," kata mereka. "Semula kami pikir dia itu gila, tetapi kami dapat melihat dan merasakan bahwa doa-doanya sangat manjur. Tolong ceritakan kepada kami tentang Allah yang dia percaya!" Sang pengijil membersihkan debu yang ada di bajunya dan mulai berbicara. Dia memperhatikan bahwa ibu jarinya menunjuk ke sebuah bagian tertentu saat dia mengambil Alkitab yang terbuka tersebut. Ketika dia melihat dan membaca bagian tersebut, dia sangat takjub. Bagian itu adalah ayat dari I Samuel 5, yang menceritakan tentang Dagon, dewa orang Filistin yang jatuh tersungkur di hadapan Tabut Perjanjian. "Saya belum pernah memperoleh ayat yang lebih baik untuk berkotbah" dia berkata sambil tersenyum kecil.
Beberapa waktu berlalu, para penduduk desa itu sekarang telah menjadi Kristen. Mereka berkata, "Panen kami meningkat dan jumlah kecelakaan yang terjadi menurun." Walaupun begitu, hal yang terbaik ialah peninggalan kebiasaan yang Lo kerjakan. Setiap sore, sepuluh sampai lima belas orang berdiri di atas waduk-waduk, merentangkan sebelah tangannya, membuka jari-jarinya dan berputar perlahan di tempat, berdoa di dalam hati untuk setiap hal yang mereka lihat melalui jari-jari mereka.
Sumber: Friday Fax, January 2002